Setelah beberapa bulan terakhir ini ramai diperbincangkan di berbagai mailing list, akhirnya minggu lalu saya mendapatkan juga buku “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri” via sebuah toko buku online www.bukukita.com (karena ternyata di Gramedia, saat itu stock-nya habis).

Menarik sekali mencermati tulisan-tulisan dari pak Cahyadi Takariawan ini tentang poligami. Penulis tidak membahas dari segi hukum syariahnya karena memang hukum syariahnya sudah jelas, tetapi mencoba melihat dari sisi masyarakat Indonesia pada umumnya, walaupun kadang terlihat beliau agak sedikit subyektif dalam menempatkan diri pada pertentangan yang ada.

Penulis menyajikan beberapa fakta, betapa poligami merupakan praktek yang sulit sekali untuk diterapkan di lingkungan kita. Beliau juga membeberkan beberapa hal yang kerap kali dijadikan alasan oleh seorang suami untuk melakukan poligami namun sejatinya itu hanyalah tindakan “pembenaran” yang dipaksakan dengan berlindung dibawah “sunnah nabi”.

Kita tidak boleh memanipulasi informasi atau menimbulkan bias, seakan-akan hanya poligami yang merupakan Sunnah Nabi. Padahal jika ditinjau dari kehidupan rumah tangga beliau, Nabi SAW melakukan monogami selama hampir 25 tahun dengan Khatijah dan melakukan poligami selama hampir sepuluh tahun. Begitu pak Cahyadi dalam pengantarnya menuliskan.

Artinya, monogami adalah Sunnah Nabi SAW yang beliau contohkan selama hampir 25 tahun, sedangkan poligami adalah Sunnah Nabi SAW yang beliau contohkan selama hampir 10 tahun. Informasi seperti ini sangat penting disampaikan kepada masyarakat luas agar mereka mengerti duduk perkaranya. Ternyata sebagian besar waktu berumah tangga Nabi SAW adalah monogami.

Saya sendiri, pernah suatu ketika berdiskusi dengan seorang sahabat tentang hal ini. Sahabat saya bersikeras bahwa melakukan poligami adalah sebuah “sunnah nabi”. Beberapa kali saya sempat diskusi juga dengan teman-teman lain dari aktivis dakwah, dan dari fikiran mereka saya sempat menangkap bahwa praktek poligami ini sesuatu yang “wajib dilakukan” oleh aktivis dakwah. Saya katakan “wajib dilakukan”, bukan berarti mereka menghukumi wajib dari fiqih. Tetapi karena setiap diskusi tentang poligami, setidaknya mereka sangat antusias sekali untuk dapat segera mewujudkannya. Bahkan apabila ada aktivis yang “masih” beristri satu, kadang orang tersebut dianggap sebagai “orang yang belum mengikuti sunnah”.

Kembali lagi ke buku “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri”.
Di dalam buku itu dicontohkan, bagaimana seorang lelaki yang karena keadaan financial-nya kurang beruntung, terbukti dengan sering diblokirnya nomor HP-nya karena telat membayar, tetapi ngebet banget ingin menikah lagi dengan alasan Sunnah Nabi.

Menarik sekali dan saya kira semua orang waras akan setuju dengan pendapat ini, bahwa kalau ingin menikah lagi haruslah mempunyai segi financial yang kuat. Karena walau bagaimanapun sang suami mesti memberikan nafkah kepada istri barunya.

Selain itu, juga dicontohkan seorang anggota DPR yang mempunyai istri lebih dari satu pernah “sambat” kepada penulis buku, bahwa menikah lagi itu harus memiliki tenaga extra. Karena hampir dipastikan tiap malam dia harus memberikan “layanan nafkah batin” kepada istri-istrinya, dan bisa dikatakan 7 hari dalam seminggu. Andaikan jatah di rumah istri pertama 4 hari, serta istri kedua 3 hari dan apbila masing-masing malam sang istri “minta jatah”, bisa dipastikan suami tersebut “non stop” 7 hari seminggu, 4 minggu per bulan dan dia baru bisa “bernafa lega” apabila istrinya sedang kedatangan tamu bulanan. Itu baru 2 istri, bagaimana kalau 3 bahkan 4 istri ya ?

Memang, untuk menjadi pelaku poligami tidaklah semudah kita mengucapkan akad nikah didepan wali dan saksi, tetapi mesti difikirkan alasan-alasan yang rasional dan masuk akal, kenapa harus berpoligami.

Apakah dengan alasan Sunnah Nabi ? bukankah, monogami adalah Sunnah Nabi juga? Bahkan dari segi waktu, praktek monogami lebih lama dilakukan oleh Nabi SAW.

Perlu difikirkan lebih lanjut tentang aspek financial, apakah cukup nafkah yang akan kita berikan? Kalo nomor HP saja masih sering diblokir karena sering telat bayar, bagaimana nanti kalo punya istri lagi? Belum lagi, dari istri-istri tersebut akan melahirkan anak-anak yang tentu saja akan menuntut pemenuhan kebutuhan yang lebih banyak.

Dan yang paling penting, seperti yang dituliskan di dalam buku tersebut adalah jangan sampai karena alasan “Sunnah Nabi”, ada pihak-pihak yang terdholimi, termasuk anak-anak.

image_pdf
Please follow and like us:
error0