img_0244.jpgSelama ini, kami hanya mendengar nama Katulampa dari TV ataupun media lainnya terutama saat-saat atau menjelang banjir. Nama Katulampa sering disebut dan saya yakin penduduk Jakarta terutama yang menyandang predikat “Ahli Waris Banjir” sangat kenal dengan nama Katulampa. (thanks to pak Daeng / JZ 10 HMI atas penemuan kosa kata “Ahli Waris Banjir” 😀 ). Karena ketinggian air di bendungan tersebut menjadi tolak ukur akan keadaan di Jakarta 6-8 jam kemudian.

Dengan ditemani oleh seorang teman (pak Nugi/ JZ 09 NUG), kita meluncur ke bendungan tersebut yang berlokasi di Bogor. Hari itu, Senin 01 Januari 2007 jalan tol Jagorawi relatif sepi, sehingga tidak lebih dari 45 menit kita sudah masuk ke Bogor. Begitu keluar dari pintu tol Bogor, kita belok kiri menuju pusat tas Tajur yang terkenal. Karena untuk menuju bendungan Katulampa kita mesti melewati Tajur. Kurang lebih 2 -3 km dari Tajur, kita sudah sampai di bendungan yang fenomental tersebut.

Di pos pemantau ketinggian air yang berada persis di samping bendungan, pak Andi Sudirman (JZ 10 GBV) bercerita banyak tentang bendungan. Beliau merupakan anggota kehormatan RAPI atas dedikasi beliau dalam pemantauan ketinggian air di Katulampa yang sangat berguna bagi penduduk Jakarta, terutama “Ahli Waris Banjir”.

Beliau orang yang sangat ramah dan supel, sampai waktu 2 jam tidak terasa kita habiskan untuk saling bercerita. Dan akhirnya, tepat pukul 17.00 kita berpamitan, meninggalkan bendungan yang selalu menjadi buah bibir diantara orang-orang Jakarta.

image_pdf
Please follow and like us:
error0