Kita semua selama ini sudah terbiasa di dalam rumah mempunyai beberapa kamar untuk masing-masing anggota keluarga, ada kamar untuk anak, kamar untuk pembantu rumah tangga bahkan kadang kita menyediakan 1 kamar khusus (atau lebih) yang diperuntukkan apabila ada famili atau teman yang kebetulan menginap di rumah kita. Dan kebiasaan tersebut sudah dilakukan dari orang-orang tua kita dulu sampai kita sekarang.

Pernahkah kita membayangkan menempati rumah yang berukuran 3 x 6 meter (atau kurang dari 20 m²) ? Bahkan bisa jadi ukuran itu adalah lebih kecil dari ukuran kamar anda sekalipun :-). Rumah seluas itu dihuni sebuah keluarga terdiri dari ibu dan bapak serta ke 5 anak-anaknya.

Sebut saja pak Mamat, dia dan istrinya beserta 5 anak-anaknya yang kebetulan belum ada yang berkeluarga (yang terbesar berumur 23 tahun dan yang terkecil masih di bangku SD), hidup di dalam sebuah rumah petak warisan orang tua pak Mamat dengan ukuran tidak lebih dari 20 m². Rumah petak tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yang depan berfungsi sebagai ruang keluarga sekaligus ruang tamu sedangkan bagian belakang terdapat sebuah kamar tidur bertingkat dan peralatan memasak. Sehingga ruang itu bisa dibilang kamar tidur sekaligus dapur. Ke dua ruangan yang tidak ada pembatas/penyekatnya tersebut kalau malam hari berfungsi sebagai kamar tidur bersama.

Tidakkah anda bertanya, bagaimana menjaga privasi masing-masing anggota keluarga? Bukankah kita sudah terbiasa, untuk masing-masing anggota keluarga kita mempunyai lemari sendiri-sendiri untuk menaruh barang-barang pribadi dan bersifat privasi? Namun tidak dengan keluarga ini, jangankan masing-masing anggota memiliki lemari sendiri, mungkin piring buat makanpun mesti gantian di antara mereka.

Tak jauh dari keluarga pak Mamat, hiduplah keluarga bu Neneng beserta ke 2 saudara kandungnya yang seluruhnya sudah berkeluarga. Bu Neneng dengan suaminya memiliki seorang anak perempuan yang sudah menginjak remaja. Adik bu Neneng, sebut saja pak Amir beserta istrinya mempunyai 2 anak yang masih balita. Terakhir adik bungsu bu Neneng, sebut saja Imron, baru saja menjadi temanten baru beberapa bulan silam. Dan….kesemuanya menempati sebuah rumah berukuran 3 x 10 meter. Rumah tersebut hanya dilengkapi dengan sebuah kamar tertutup 1 buah. Sisa ruangan yang ada berupa ruangan terbuka yang disana terdapat 2 buah tempat tidur dari kayu.

Keluarga bu Neneng ini tidak jauh berbeda dengan keluarga pak Mamat, ruangan terbuka yang ada kalau malam berfungsi sebagai kamar tidur bersama. Lalu, apakah anda tidak bertanya, bagaimana (maaf), masing-masing keluarga tersebut menjalankan hubungan suami istri  (sekali lagi maaf), kalau hanya ada 1 buah kamar yang tertutup ? Bagaimana komunikasi yang mereka bangun antar keluarga untuk dapat gantian dalam menggunakan kamar tersebut?

Lalu bagaimana pula dengan anak gadis bu Neneng yang menginjak remaja, dimana masa-masa tersebut adalah masa-masa seorang wanita membutuhkan privasi?

Kalaupun anda tidak pernah mengalaminya, maka bersyukurlah anda atas rezeki yang telah Allah berikan kepada anda semua. Saya yakin (mungkin), bahwa anda semua tidak pernah berfikiran semacam itu dan mengatakan bahwa cerita ini hanyalah sebuah cerita kosong. Tapi, ini adalah suatu kenyataan. Tempatnyapun tidak jauh dari kita saat ini, tidak jauh dari rumah-rumah mewah yang berjejer. Ya….betul, ini adalah salah satu kenyataan yang ada di masyarakat Jakarta, Ibukota Indonesia. Tidak usah jauh-jauh anda mencarinya lewat goggle map, cukup anda memasuki wilayah-wilayah padat penduduk di daerah Jakarta. Anda akan menemukan lebih banyak lagi keluarga-keluarga yang mirip (bahkan lebih memprihatinkan) dengan keluarga pak Mamat ataupun bu Neneng.

Maka, masih nyamankah kita merasakan secangkir kopi di Starbucks Coffee yang harga 1 sruputan kopi setara dengan beras 1 liter ?

1,644 total views, 1 views today