Suatu sore di dalam sebuah mall di pinggiran Jakarta, saking asyiknya saya melihat-lihat barang-barang yang dipajang di deretan toko yang berjejer, saya lupa bahwa saat itu jam sudah menunjukkan pukul 18.30 yang artinya waktu maghrib sudah jalan beberapa menit. Bergegas saya mencari tempat sholat yang ada di lantai tersebut, walau agak susah mencarinya karena yang disebut mushola tak lebih dari sebuah ruangan kecil di sudut lantai tersebut yang dipasangi beberapa sajadah kumal. Masya Allah

Setelah mengambil air wudhu, saya memasuki mushola itu sambil menoleh kanan kiri karena di dalam sepi tidak ada orang. Sejenak saya berdiri sambil menunggu barangkali ada orang lain yang akan sholat maghrib sehingga saya masih bisa mendapatkan sholat berjamaah. Tak lama berselang ada seorang pemuda tampak terburu masuk mushola, lalu saya berkata dengan halus kepadanya “Mas…yuk bareng sholat…”. Tapi, jawabannya membuat saya kaget “Sholat aja sendiri, tempatnya gak cukup mas kalo  berdua”. Saya jadi tambah bingung, walaupun tempat ini disebut mushola mini karena hanya terhampar 3 buah sajadah, tapi khan masih bisa untuk sholat berjamaah. Yach…daripada saya senewen sendiri, saya biarkan saja pemuda itu sholat sedirian sementara saya masih “bertahan” untuk mencari teman, yang untungnya tak begitu lama ada seorang bapak-bapak mempunyai “fikiran” sama denganku sehingga kami bisa melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

Hal tersebut bukan hanya sekali saya jumpai, lain waktu masih di sebuah pusat perbelanjaan (he..he…bukan berarti saya suka shoping yach..cuman pas kebetulan sajah). Di saat waktu sholat tiba, saya pergi ke mushola yang tersedia di sana. Begitu sehabis mengambil air wudlu, saya masuk ke mushola. Saya dapatin orang-orang banyak yang pada melakukan sholat sendiri-sendiri dan seperti biasa saya berdiri sambil menunggu orang yang akan melaksanakan sholat dan bersedia saya ajak sholat berjamaah. Ada seorang bapak-bapak masuk ke mushola, begitu saya tawarkan untuk sholat bareng dengan saya, malah dia (mungkin) sedikit marah menolaknya dengan sedikit ngedumel  “Sholat aja sendiri, kenapa sih mesti bareng-bareng..”. Bagai disambar petir di siang bolong, saya terdiam tak dapat berkata-kata. Kok sampai se-sewot itu? khan saya cuman bilang dengan halus, “Pak..mari sholat berjamaah dengan saya”, sambil tangan kanan saya mengisyaratkan beliau untuk maju menjadi imam saya. Lha kok malah sewot.

Dari kejadian-kejadian tersebut, saya tidak habis fikir, masak sih mereka pada nggak tahu? Khan negara Indonesia ini adalah negara muslim terbesar di dunia, pastilah paling tidak di masa kecil mereka pernah ngaji kepada guru-guru ngaji di kampungnya sana. Apakah mereka tidak mengetahui betapa besarnya keutamaan sholat berjamaah, seperti yang tertera dalam hadist :

Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali.  (HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 650)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan duap puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu`nya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid….dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia....” (HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 649)

Atau ada lagi sebuah hadist yang berbunyi :

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.

Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

Lebih lanjut, hukum shalat jamaah menurut mazhab Syafi’i : Fardlu kifayah, yaitu apabila tidak ada seorang pun yang mendirikan jamaah dalam satu kampung, maka seluruh kampung mendapatakn dosa

Mazhab Hanbali bahkan mengatakan shalat jamaah adalah fardlu ain, wajib bagi setiap muslim, karena kuat dan banyaknya dalil yang memerintahkan shalat jamaah.

Mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan shalat jamaah selain shalat jum’ah hukumnya sunnah mu’akkadah.

Akhirya, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga, budayakan sholat berjamaah dimanapun kita berada. Apabila kita sedang berada di rumah, berjamaah di masjid pada sholat fardhu lebih diutamakan. Dan apabila keadaan tidak memungkinkan secara syar’i, paling tidak kita bisa sholat berjamaah dengan istri dan anak-anak kita di rumah.

2,030 total views, 2 views today