petir.jpgJakarta saat ini sedang di akhir musim penghujan, musim dimana musuh bebuyutan kami  sering menampakkan kesadisannya. Bagaimana tidak sadis, tidak pandang siapa dan bagaimana musuh yang dihadapinya, kalau dia menyerang, semuanya bisa hancur bahkan nyawa bisa meregang. Sebagus apapun konfigurasi grounding yang dibuat, sehebat apapun alat yang dibeli, tetapi tidak ada yang menjamin akan selamat dari amukan si musuh bebuyutan ini, ya…itulah dia si Gundala Putra Petir. Saya pernah membaca sebuah cerita dari rekan-rekan amatir bahwa beliau sudah mengkonfigurasi peralatannya sedemikian rupa sehingga dirasa aman dari amukan si gundala ini. Tetapi, ketika hujan lebat tiba dan si gundala menyambar ke sana kemari, akhirnya singgah juga ke stasiun rekan amatir tersebut melewati antenna yang menjulang ke langit di atas rumahnya. Semua equipment yang terhubung ke kabel antenna tersebut hangus, bahkan kabel RG-8 yang segede jempol orang dewasa-pun leleh dibuatnya. Beruntung, radio klasik miliknya yang berharga mahal tidak tersambung dengan kabel antenna satupun. Dan beruntung pula, saat itu terjadi rekan tadi agak jauh duduknya dari stasiun radionya, sehingga korban nyawa terhindarkan.

Bahkan, setahun yang lalu ada seorang rekan RAPI di daerah Jakarta Timur terpaksa tidak bisa ngebreak untuk beberapa bulan karena semua equipment mulai dari radio, antenna, kabel sampai DC power supply habis terbakar gara-gara si gundala sang putra petir datang menghampiri.

Betul memang, tidak ada sebuah alat pengamanpun yang mampu memberikan jaminan 100% aman dari amukan si petir ini, satu-satunya jalan yang paling aman tatkala hujan turun adalah melepaskan semua koneksi ke antenna dan juga melepaskan sambungan listrik dari colokan PLN. Atau dengan kata lain, silahkan istirahat dulu selama hujan turun. Itulah cara yang paling aman untuk menghindari kekejaman si gundala putra petir. Walaupun memang, ada daerah-daerah tertentu yang mempunyai kecenderungan tingkat medan magnetik petir yang tinggi dan ada yang rendah. Kalau kebetulan mempunyai tingkat medan magnetik petir yang tinggi, maka akan selamanya daerah tersebut dikatakan rawan terhadap petir dan cara-cara di atas adalah cara yang paling aman dan murah.

Musim penghujan hampir usai, artinya si gundala sang putra petir juga akan kehabisan cara untuk melancarkan serangannya, tapi bukan berarti kami – para breaker— aman dari musuh-musuhnya. Begitu musim kemarau mulai seperti sekarang ini, musuh-musuh kejam lainnya siap melancarkan serangannya.

Sudah hampir 2 minggu ini saya “menggantungkan” radio HF, karena antenna saya dihabisi oleh layang-layang yang dimainkan anak-anak. Pada 2 minggu yang lalu, layang-layang mereka “hanya” berhasil memutuskan ikatan nylon untuk membentangkan ½ lambda inverted V yang saya gunakan sebagai antenna untuk transmit di 11 MHz. Yang saya butuhkan saat itu hanyalah menyambung kembali tali nylon tersebut untuk bisa transmit kembali.

Tetapi yang terjadi beberapa hari yang lalu sungguh mengenaskan, saat itu bukan tali nylon-nya yang putus, tetapi kabel NYAF 1 mm sebagai komponen utama antenna saya mampu diputuskan oleh benang “gelasan” anak-anak nakal tersebut. Kalau hanya tali nylon yang putus, saya tinggal nyambung dan beres. Tetapi kalo kabel yang putus, tidak bisa begitu saja saya menyambungkannya lagi karena pasti akan berpengaruh pada matching antenna yang ada. Yang bisa saya lakukan adalah membeli lagi kabel NYAF 1mm dan kemudian bikin antenna baru dengan proses pe-“matching”-an yang cukup melelahkan, apalagi semua mesti saya lakukan di atas genteng rumah.

Hmm….sampai saat ini saya belum berani membuat antena lagi, karena saya tidak bisa menjamin apakah antenna saya akan aman oleh benang-benang gelasan anak-anak yang main layang-layang.

Ya betul, itulah musuh bebuyutan kaum breaker, gundala sang putra petir dan layang-layang.

2,451 total views, 2 views today