Rabu, 26 Desember 2007 jam 08.00 pagi, saya terima SMS dari seorang family saya di Ponorogo yang mengatakan bahwa Ponorogo saat ini terkena banjir yang cukup besar.

Untuk cross check info yang lebih akurat, saya langsung telephone teman SMA saya yang saat ini jadi salah satu punggawa di pemkab Ponorogo dan ternyata memang terjadi banjir yang cukup besar di Ponorogo yang mengakibatkan 500 orang mengungsi di pendopo kabupaten Ponorogo.

Beberapa daerah yang terkena banjir meliputi Tambak Bayan, Sumoroto, Sukorejo, Tonatan, Jetis, Mlarak, Gontor. Jalur Wonogiri – Ponorogo (jalur ke rumah family saya) terputus total akibat meluapnya sungai Sekayu. Nyaris seluruh wilayah Ponorogo yang berdekatan dengan sungai besar, terendam banjir hingga mencapai 1 – 2 meter.

Saat ini, pemkab Ponorogo tengah sibuk melakukan penanganan korban banjir, namun sayangnya team Satkorlak setempat tidak mempunyai perahu karet dan harus meminjam perahu ke LANUD Iswahyudi Madiun.

Saya juga berkesempatan telephone teman saya yang rumahnya di desa Serangan, kec. Sukorejo dan ternyata di sana air sudah memasuki rumah warga setinggi 1 meter, saat ini teman saya sedang mengungsi di tempat saudaranya yang tidak terkena banjir.

Saya bisa memaklumi begaimana paniknya masyarakat dan pemkab Ponorogo menghadapi musibah ini, karena memang banjir hampir tidak pernah menyambangi kabupaten tersebut. Pernah saat itu tahun 1985 banjir melanda Ponorogo tetapi hanya pinggiran kali saja yang mengalami banjir dan itupun tidak sebesar saat ini.