Archive

Archive for October, 2007

Minal Aidin ye….

October 15th, 2007

Selamat Hari Raya 1428H, Minal Aidin wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Begitulah, kalimat tersebut sangat popular di Indonesia di saat hari raya idul Fitri ini, baik terpampang di Media Elektronik maupun cetak, bahkan spanduk di pinggir jalan. Dan orang-orangpun ikut-ikutan menuliskan SMS berisi kalimat-kalimat tersebut dan di kirimkanlah secara massal kepada sanak famili, kerabat dan koleganya sehingga pihak operator seluler meraup untung yang banyak pada perhelatan tahunan tersebut.

Saking populernya kalimat tersebut sehingga tiap ketemu, orang-orang Indonesia kebanyakan akan saling bilang Minal Aidzin ye…, atau kadang di awali dengan joke Kita udah minal minul belum ya,…kalo gitu, minal aidin ye….mohon maaf lahir batin. Entah tahu apa tidak arti kalimat tersebut, tetapi kalo belum mengucapkannya sepertinya kurang afdol ritual idul fitrinya.

Sebetulnya, risih juga –bahkan kasihan, melihat fenomena tersebut. Bagaimana seorang yang awam secara terus menerus berada di dalam ketidak tahuannya, dan latah — salah satu ciri khas orang Indonesia, latah. Read more…

Tahukah Anda

Review buku “Tentara Langit di Karbala”

October 2nd, 2007

Tujuh puluh dua pasukan Husain dikepung empat ribu tentara Ibn Ziyad di bawah komando Syimr ibn Dzil Jun. Setiap satu sahabat Husain harus menghadapi 50-60 tentara musuh sekaligus. Sebelum peperangan dimulai, tentara musuh menghalangi rombongan Husain. Geriba (tempat air) yang sebelumnya telah dipenuhi dengan air oleh saudara seayahnya, Al Abbas ibn Ali, sebelum blokade menjadi ketat, telah kering (karena penghalangan ini).

Dalam pertempuran yang tak seimbang itu, cucu Rasulullah tersebut tersungkur terkena sabetan pedang dan mencoba bangkit kembali dengan tubuh penuh luka dan darah. Dia tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya yang membabi-buta. Imam Husain terus membela pasukannya dengan mengorbankan dirinya, maju sendiri ke medan laga. Akhirnya, setelah melewati masa pertumpahan darah yang sangat panjang, dia pun jatuh dan terbunuh di tangan Syimr ibn Dzil Jun, seorang panglima durjana yang sangat berambisi untuk membunuhnya.

Itulah sekelumit kisah dalam buku “Tentara Langit di Karbala”, sebuah buku yang mengulas tragedi memilukan dalam sejarah Islam.

Disebutkan, bagaimana seorang cucu Rasulullah yang rela mengorbankan nyawanya demi untuk persatuan ummat. Digambarkan pula, bagaimana sebuah kekuasan dapat membutakan nurani manusia sehingga tidak bisa membedakan, mana yang benar dan yang salah, serta kekuasaan mampu menghilangkan rasa cinta dan hormat di hati, bahkan kepada keturunan Rasulullah SAW sekalipun.

General, Review