Beberapa hari terakhir ini ada diskusi menarik di milist indonesian-citizens-band@yahoogroups.com dan rapi@yahoogroups.com tentang radio lama vs radio baru.

Yang menjadi obyek diskusi kebetulan sebuah transceiver merk Kenwood type TR-9130 keluaran tahun 1982, sebuah radio legendaris yang banyak orang mengingkannya, versus radio baru merk Kenwood type TM-271 keluaran tahun 2003.

Berikut spesifikasi umum dari kedua radio tersebut, tentu saja ini tidak menggambarkan keseluruhan feature yang ada.


Type

Amateur VHF transceiver

Amateur VHF transceiver

Frequency range

144-146 MHz

· TX: 144 – 148 MHz

· RX: 136 – 174

Mode

FM/SSB/CW

FM

RF Power output

· Hi: 25 W

· Lo: 5 W

· Hi: 60 W

· Lo: 25 W

Dimensions (W*H*D)

170 x 68 x 241 mm

160x43x137 mm

Weight

2.4 kg

1.2 kg

Manufactured

1982-19xx

2003-200x

Memory

6 channel

· 200 memory channels, plus one call channel

· 6 alphanumeric characters offers 100 memory channels

Duplex

+/- 600 khz

flexible/free

Price (Indonesia)

1.5 jt – 2 jt (second)

1.4 jt (baru)

Ada beberapa teman berpendapat bahwa TR-9130 mempunyai kelebihan receiver yang sangat bagus dan tidak bisa dibandingkan dengan receiver pada radio baru. Dan memang, pada kenyataannya pada radio-radio lama cenderung mempunyai receiver yang “bagus” dimana mereka mampu menangkap pancaran yang lemah tetapi di sisi lain mampu membatasi “pancaran liar” yang ada (splatter). Hal tersebut pantas saja dimiliki oleh radio-radio type lama, mengingat mereka mempunyai blok rangkaian receiver yang sangat besar.

Kelebihan tersebut secara fakta memang tidak dimiliki oleh radio type baru, semacam TM-271. Pada beberapa kasus pancaran lawan bicara yang sangat kecil, dimana radio baru sulit untuk menerima tetapi masih bisa diterima (walaupun dengan susah payah) oleh radio lama sekelas TR-9130. Akan tetapi, hal-hal tersebut dapat dibenahi dengan pemilihan antenna yang baik dan tepat.

Adapun bentuk blok receiver yang cenderung lebih besar pada TR-9130 dibanding dengan TM-271, menurut analisa kami hanyalah karena pada saat itu (disaat TR-9130 keluar) belum ditemukan rangkaian IC sehingga dapat menghemat beberapa komponen transistor ataupun semikonduktor yang ada, walhasil pada era 1980-an karena masih menggunakan transistor, otomatis akan memakan tempat yang besar (walaupun penggunaan IC memungkinkan beberapa faktor seperti frekwensi kerja akan terkoreksi).

Ada satu hal yang menarik yang dimiliki oleh TR-9130, dimana radio tersebut walaupun hanya mempunyai RF power sebesar 25 watt tetapi dapat di “adjust” menjadi keluar 150 watt. Dan inilah salah satu faktor kenapa radio tersebut sampai saat ini masih diburu para amatir radio.

Sebetulnya masih ada sebuah feature yang mempunyai nilai lebih yang dipunyai oleh TR-9130, yaitu “all mode”. Dengan “all mode” ini, TR-9130 tidak hanya mempunyai kesempatan untuk bekerja di mode FM saja, tetapi dapat juga untuk mode SSW dan CW. Namun hal ini justru menjadi tidak berguna, karena seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita tidak menemukan orang berkomunikasi pada band VHF dengan mode SSW apalagi CW.

Diluar kelebihan-kelebihan yang ada pada radio lama TR-9130 tentu saja ada banyak kelemahan yang bersifat fungsional yang memungkinkan pengguna radio tersebut menjadi garuk-garuk kepala karena gemes. Salah satunya adalah keterbatasan memory yang ada. TR-9130 hanya memiliki 6 chanel memory yang tentu saja di jaman sekarang ini dimana kita mempunyai banyak frekwensi singgah yang kita kunjungi, akan sangat repot untuk dapat memasukkan mereka ke dalam memory TR-9130.

Keterbatasan yang lain adalah fungsi duplex yang dimiliki TR-9130, yang hanya memiliki 600 khz duplex +/-. Tentu saja, saat ini dimana masing-masing pihak mempunyai kebebasan mendirikan repeater tanpa menganut konvensi bersama, dimana frekwensi duplex haruslah +/- 600 khz, sehingga apabila kita ingin bergabung dengan repeater dengan duplex diluar konvensi bersama tersebut dan kita ingin menyimpannya ke dalam memory sangatlah tidak memungkinkan. Satu-satunya cara adalah tidak dengan memasukkan frekwensi repeater tersebut ke dalam memory, tetapi pada session VFO. Hal ini mengandung kelemahan yaitu apabila radio dalam keadaan mati dan tidak mendapatkan catudaya listrik, maka setting tersebut akan reset kembali dan kita mesti setting ulang setiap menyalakan radio. Hal-hal yang menjadi kelemahan dari TR-9130 telah dikoreksi oleh produk-produk yang lebih baru. Dan untuk kelas VHF transceiver dari Kenwood tentu saja TM-271 adalah produk terakhir mereka.

Keterbatasan memory, fungsi duplex serta RF power yang tidak lagi “kecil” yaitu sebesar 60watt akan menjadi faktor yang menarik yang ada pada radio ini disamping feature-featur canggih lain yang tidak mungkin ada pada radio lama seperti fungsi digital.

Untuk kualitas audio, walaupun tidak “se-empuk” milik TR-9130, radio VHF milik Kenwood keluaran tahun 2003 ini masih unggul dibandingkan radio merk lain yang sekelas — dan memang sepertinya menjadi keunggulan tersendiri dari produk-produk Kenwood dalam hal kualitas audionya.

Sedangkan untuk modulasi, jelas TM-271 jauh lebih bagus dibandingkan dengan TR-9130. Dimana pada radio-radio lama, kualitas modulasi biasanya “ala kadarnya”, tanpa sentuhan mic processor, sehingga cenderung “keluar sama seperti suara orang yang ngomong”. Pada TM-271 memiliki modulasi yang lebih “enak di dengar”, sehingga mungkin belum dibutuhkannya mic compressor tambahan yang biasa menjadi “barang wajib” bagi pemilik radio lama untuk meningkatkan kualitas modulasinya. (namun dalam beberapa kasus, tetap saja para amatir radio melengkapi unit tambahan berupa mic compressor untuk lebih memantabkan kualitas modulasi dari TM-271).

Dalam hal RF Power, TM-271 mempunyai 65 watt pada HIGH, dan langsung 25 Watt pada LOW. Saya tidak tahu, apakah para engineer Kenwood “lupa” memberikan tingkatan “MIDDLE” pada RF Power, sehingga harusnya (harus menurut saya :) ), HIGH=60Watt, MIDDLE=25Watt dan LOW=10Watt. Jadi apabila kita masih tetep bisa main “santai” dengan power yang kecil. Tetapi, untuk masalah RF power ini, tidak jadi alasan untuk mencomparasi antara TR-9130 dengan TM-271, karena pada TR-9130 RF Power dapat di adjust (baca di “paksa”) menjadi keluar 150Watt — walaupun mesti keluar duit lagi untuk proses ini.

Melihat kisaran harga yang ada, sebuah TR-9130 saat artikel ini kami tulis (Agustus 2007) pasaran di Jakarta mempunyai range antara 1.5 juta – 2 juta rupiah dengan kondisi second (karena TR-9130 sudah discontinued tentu saja J ), tergantung kondisi.

Sedangkan untuk TM-271 kondisi baru, harga saat ini di Glodok adalah berkisar 1.4 jt (pada kisaran USD = 9000-an rupiah).

Mengapa sebuah radio lama TR-9130 mempunyai harga sedemikian fantastis apabila diukur dengan kemampuan yang dimiliki?

Kalau anda beranggapan bahwa sebuah tindakan yang rugi untuk membeli sebuah radio tua dengan beberapa keterbatasan, maka sesungguhnya anda belum mencapai kedudukan untuk itu, dan ini sama dengan saya :-).

Karena yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan sebuah radio tua, hanyalah para hobies amatir dan kolektor. Mereka tidak membeli fungsi tetapi ingin mendapatkan kepuasan batin seorang kolektor.

1,627 total views, 4 views today