Assalamu’alaikum wr, wb.

Saya sering mendengar para penceramah menyitir sebuah dalil “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.”

Bagaimana kedudukan haditsnya? Ada yang mengatakan hadits itu palsu, tapi kalau dilihat isinya kok ada benarnya?

Mohon penjelasan, ustadz.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Azmi

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Kalimat tuntutlah ilmu sampai negeri Cina mungkin ada benarnya. Sebab negeri Cina banyak memiliki khazanah kekayaan ilmu pengetahuan.

Ilmu ketabiban Cina sejak zaman dahulu sudah sangat terkenal. Para tabib Cina terkenal kepiawaiannya di seantero jagad. Bahkan hingga hari ini mereka pun tetap unggul di bidang kedokteran modern.

Orang Cina disebut-sebut sebagai penemu kertas yang pertama kali dalam sejarah. Selain ilmu kedokteran dan pengetahuan, ilmu bela diri juga berkembang pesat di Cina. Sastra dan budaya Cina juga merupakan sebuah keunikan tersendiri.

Yang menarik, negeri Cina di masa khulafaurrasyidin telah bersentuhan dengan para shahabat. Bakan di masa khalifah Utsman bin Affan, bangsa itu telah memelk agama Islam. Meski belum seluruhnya.

Namun boleh dibilang bahwa Islam sebagai agama telah masuk ke Cina terlebih dahulu dari pada Nusantara.

Bahkan para sejarawan meyakini bahwa sebagian dari penyebar agama Islam di tanah Jawa adalah para da’i dari negeri Cina. Bahkan model pakaian orang Cina menjadi pakaian khas umat Islam di negeri kita. Baju ‘koko’ konon model baju Cina yang kni terlanjur menjadi model baju para kiai, ustadz, dan penceramah.

Namun kalau kita kembal ke titik masalah, kalimat tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina bukanlah sabda nabi Muhammad Saw.

Kalimat ini memang ada perawinya yang diklaim sampai nabi Muhammad SAW.
Setidaknya ada 3 jalur yang berbeda. Namun ketiganya bermasalah semua.

1. Sanad Pertama

Sanad bermasalah yang pertama adalah:
1. Dari Alhasan bin Athiyah
2. dari Abu Atikah Tarif bin Sulaiman
3. dari Anas bin Malik
4. dari nabi SAW

Yang menjadi biang kerok adalah Abu Atikah, perawi nomor dua. Dia ini disepakati oleh para kritikus hadits sebagai PEMALSU hadits.

Al-Bukhari, Annasai, Abu Hatim dan lainnya sepakat bahwa Abu Atikah tidak punya kredibilitas sebagai perawi hadits.
Imam Ibnu Hibban tegas menetapkan hadits ini BATHIL LAA ASHLA LAHU (batil, tidak ada asalnya. Pernyataan itu diulang lagi oleh As-Sakhawi dalam kitabnya al-Maqashid al-Hasanah.

Imam Ahmad bin Hanbal juga menentang keras hadits tersebut.

Ibnul Jauzy memasukkkan haits itu ke dalam kitabnya khusus koleksi hadits palsu Al-Maudhu’aat.

2. Sanad Kedua

Sanad kedua ini juga bermasalah, yaitu lewat jalur:
– dari Ahmad bin Abdullah
– dari Maslamah bin Alqashim
– dari Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Alasqalani
– dari Ubaidillah bim Muhammad Al-Fiyabi
– dari AzZuhri
– Anas bin Malik ra
– dari nabi SAW

Yang bermasalah adalah Ya’qub bin Ibrahim. Dia adalah seorang pendusta, menurut Azzahabi.

3. Sanad Ketiga

Dalam sanad ketiga, ada seorang perawi bernama Ahmad bin Abdullah Aljuwaibiri. Dia juga dikenal sebagai seorang PEMALSU hadits.

Maka dengan demikian jelaslah bahwa kalimat tuntutlah ilmu sampai negeri Cina bukanlah perkataan Rasulullah SAW. Karena tidak satupun yang sanadnya sampai kepada Rasulullah.

Kalimat itu mungkin ada benarnya, tetapi bukan sabda baginda Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Ahmad Sarwat, Lc

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/7621085731-tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina.htm?other

1,719 total views, 1 views today