Runtuhnya idealisme
Beberapa saat setelah pernikahan, kami membuat rencana dalam mendidik anak-anak. Seperti memberi ASI eklusif selama 6 bulan pada bayi, menghindari konsumsi fast food, tidak boleh makan makanan yang mengandung MSG (termasuk di dalamnya Chiki dan sejenisnya) dan zat pewarna tambahan, tidak boleh makan permen dan sederet aturan-aturan teori yang sangat indah untuk ditulis.
Setelah Fasya, — anak pertama kami – lahir, kami semakin merapatkan barisan untuk mencapai rencana awal tadi. Kami sadar, bahwa akan banyak sekali rintangan yang akan muncul di depan, baik dari dalam maupun luar lingkungan keluarga. Rintangan pertama muncul, saat istri saya memberikan ASI eklusif selama 6 bulan pertama. Beberapa keluarga menyarankan untuk memberikan susu formula agar bisa cepat gede. Alhamdulilah, rintangan ini bisa kita lalui dengan indah bahkan kita bisa memberikan edukasi kepada keluarga tentang hal tersebut.
Adalah sebuah kesalahan fatal tatkala pada suatu kesempatan Fasya di ajak oleh famili kami, dan sang famili tersebut memberikan permen kepadanya. Saat itulah, Fasya untuk pertama kalinya merasakan manisnya permen.
Dan pada kesempatan yang lain, dia minta dibolehkan makan permen lagi yang tentu saja permintaan ini kami tolak. Saat itu, keadaan masih berpihak pada kami dimana Fasya masih mudah untuk dikontrol.
Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula umur Fasya dimana dia sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Pada suatu ketika dia hanya mau makan apabila sambil “makan†permen.
Segala upaya sudah dilakukan untuk membujuknya agar tidak meneruskan permintaannya, tetapi dia teteap saja keukeuh pada permintaannya. Akhirnya, kami menyerah dengan keadaan ini. Fasya diperbolehkan makan permen asal dia mau sambil makan nasi.
Suatu ketika, dimana kami harus menitipkan Fasya kepada tantenya karena kami harus pergi dan tidak memungkinkan Fasya untuk ikut. Tentu saja dia menolak dan bisa ditebak, senjata kami adalah iming-iming boleh makan permen.
Yang terakhir, saat dia ngambek tidak mau berangkat sekolah (Play Group), maka kami harus merelakan di tas-nya kami masukkan Chiki dan permen.
Akhirnya, kami tidak berdaya melawan keadaan ini yang menyebabkan idealisme kami luntur satu persatu. Entah karena kami yang kurang gigih dalam memperjuangkannya atau karena memang lingkunganlah yang terlalu kuat mempengaruhi Fasya.
Semoga, idealisme-idealisme kami yang lain yang sangat fundamental secara aqidah tidak ikut luntur dalam menghadapi keadaan-keadaan sekarang.
Amiin.

secara kami belum melewati fase2 diatas… :)… semoga nanti kami dikuatkan…
Salam kenal mas agung. Aku setelah melihat view mas agung kayaknya pernah mengenal deh, hehehe…..O iya mas agung aku juga mengalami masalah yang sama, Istriku termasuk orang yang teliti dalam memberikan makanan buat anak-anak kami, karena memang background istri saya farmasi dan kebetulan sekarang juga kerja di Biofarma salah satu BUMN farmasi. Mulanya kami sangat ketat dalam memberikan makanan termasuk jumlah kalori, komposisi susu formula dan lain-lain. alhamdulillah anak saya dapat ASI exclusive selama 6 bulan dan kondisi tersebut masih berlangsung sampai 1.3 tahun. Anak saya mengenal permen bermula dari Ibu kandung saya yang menjenguk cucunya dibandung dan secara tidak sengaja anak saya menemukan premen dalam tas ibu saya dan semenjak itu mulai dia suka permen. Kalau pas kebetulan saya dinas di bandung ( kebetulan saya sering dinas luar). selalu anak saya bilang ” Pa hoyong emen” wah kalau sudah seperti itu susah. Tetapi saya dan istri mencoba memberikan sesuatu yang lain ketika anak saya minta permen, dan barang itu berupa coklat. Menurut istri saya coklat dibanding dengan permen lebih aman coklat karena kandungan khusus yang ada dalam permen sangat membahayakan pertumbuhan otak anak termasuk salah satunya adalah zat pewarna dalam permen. ya itu aja mas agung.
Thk mas Gunawan …
Btw, sampeyan yg di milist SMAZA-PO khan ?
Sekali lagi thk for your comment.