Anak usia 3 bulan, harusnya sudah bisa melakukan hal-hal seperti : bermain dengan kedua tangannya, menegakkan kepala kalau diangkat dan tengkurap. Sudah 3.5 bulan usia Azka saat itu, namun Azka belum bisa melakukan hal-hal tersebut.

Melihat ada keanehan dalam diri Azka, kami konsultasikan hal tersebut kepada DSA kami. Oleh beliau, kemudian disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter syaraf anak, dr.HDP yang berpraktek di sebuah klinik tumbuh kembang di kawasan Kelapa Gading.

Saat pertama datang, dr. HDP menyarankan Azka untuk dilakukan fisio therapy  dahulu selama 1 bulan dengan dirujuk ke dr.LHW di RSCM.

Jadilah, hari-hari Azka dihiasi dengan bolak-balik ke RSCM seminggu 2 kali untuk melakukan fisio theraphy.

Tidak terasa 1 bulan telah berlalu, tetapi tidak ada perkembangan berarti pada Azka. Karena untuk melakukan konsultasi ke dr.HDP harus pada waktu malam hari dan biasanya mendapatkan nomor antrian yang banyak, terkadang jam 11 malam baru kami berangkat dari rumah untuk menuju ke klinik tersebut, serta jarak yang lumayan jauh (kami di Kampung Melayu, sedangkan klinik tersebut berada di Kelapa Gading), sehingga tepat 1 bulan setelah menjalani terapi, kami tidak kembali ke dr. HDP namun kami konsultasi ke ahli syaraf anak, Prof. TSM yang berpraktek di sebuah RS dekat rumah. Beliau menyarankan untuk dilakukan CT-Scan guna melihat apakah ada kelainan pada otak Azka.

Setelah melihat hasil CT-Scan, Prof. TSM mendiagnosa Azka terkena TORCH. Untuk mendukung diagnosa tersebut, beliau menyarankan untuk dilakukan test TORCH lengkap di laboratorium.

Akhirnya, kenyataan itu benar-benar terjadi. Hasil test darah Azka mengindikasikan bahwa ada virus CMV yang menyerangnya saat di dalam kandungan bunda. Sehingga beberapa fungsi otak Azka dirusak oleh virus tsb. Namun, infeksi primer dari virus CMV tersebut sudah lewat, dalam artian sekarang yang terjadi adalah efek dari infeksi yang telah terjadi beberapa bulan lalu, demikian Prof. TSM menjelaskan. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan terhadap Azka selain meneruskan fisio teraphy untuk melatih syaraf motoriknya agar bisa berfungsi normal, selain memberikan vitamin khusus untuk otak guna mempercepat perkembangan sel-sel otak yang terganggu pertumbuhannya akibat serangan virus CMV.

Lebih lanjut Prof.TSM menyarankan untuk dilakukan test pendengaran (BERA) di RSCM dan test mata di RS Mata Aini. Alhamdulilah, kedua test tersebut menyebutkan bahwa fungsi pendengaran dan penglihatan Azka masih normal. (karena biasanya, CMV menyerang syaraf retina sehingga bisa menimbulkan kebutaan)

Belum puas terhadap hasil diagnosa tersebut, kami mencari second opinion kepada dr. HDP lagi. Akhirnya kami kembali melakukan konsultasi ke beliau walaupun kami harus berangkat malam-malam dengan jarak yang lumayan jauh.

Setelah semua data dari Prof. TSM kami serahkan ke dr. HDP, beliau mempunyai pendapat yang sama dengan gurunya tadi. (kami tahu bahwa keduanya sama-sama di RSCM, yang berarti berasal dari satu almamater). Hanya saja, untuk membuktikan kapan infeksi skunder terjadi, dr. HDP menyarankan untuk melakukan test CMV Aviditas.

Hasil dari test CMV Aviditas menyebutkan bahwa memang infeksi sekunder telah terjadi. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa bisa jadi virus CMV masih ada dalam tubuh Azka. Sehingga beliau memberikan resep obat Valcyte yang harus dikonsumsi selama 1 bulan dengan dosis 75 mg sekali makan selama 2 kali sehari.

Ternyata susah sekali mendapatkan obat tersebut. Dan kemungkinkan, hanya ada beberapa apotek saja di Jakarta yang mempunyai obat tersebut, salah satunya di Apotek Grogol. Kami sempat terhenyak setelah mengetahui harga obat tersebut. Dalam sebulan, dengan dosis 150 mg per hari, berarti Azka membutuhkan 10 kapsul obat tersebut karena 1 kapsul berisi 450 mg. Padahal 1 kapsulnya seharga 380.000,-  . Subhanallah, begitu berat cobaan yang harus kamu jalani nak.

Dengan kondisi seperti ini, kami hanya bisa membelinya per 6 hari sekali (atau 2 kapsul),  agar ada jeda untuk menarik nafas buat kami.

Sekarang, usia Azka sudah 7 bulan. Dan sudah 3 bulan lebih dia menjalani fisio teraphy di RSCM. Alhamdulilah, sudah banyak perkembangan yang telah dicapai. Azka sudah bisa tengkurap sendiri walaupun mesti harus dirangsang. Memang, dibandingkan dengan anak-anak normal yang lain, usia 7 bulan harusnya sudah bisa duduk. Namun, semua itu sudah menjadi keputusan Allah. Ya….betul, ini semua adalah kehendak Allah yang harus kita terima. Sama halnya biaya yang harus kami keluarkan untuk keperluan ini semua. Semua rezeki yang kami terima adalah pemberian Allah, dan sekarang Allah meminta kami untuk memelihara mahluknya yang dititipkan kepada kami. Tentu saja, Allah sudah mengukur semuanya. Dan kami yakin, Allah tidak akan menelantarkan mahluknya lantaran tidak ada biaya untuk berihtiar.

Saran kami, bagi anda pasangan muda atau yang akan merencakan hamil, silahkan lakukan test TORCH lengkap di laboratorium untuk mendeteksi secara dini, apakah ibu yang akan hamil tersebut terinfeksi salah satu atau beberapa virus TORCH (Toksoplasma, Rubella, CMV dan HSV). Ingat, bahwa infeksi TORCH ini tidak terasa pada ibu hamil. Dan tidak pula harus berdekatan dengan kucing, anjing. Karena, keluarga kami tidak suka kucing dan selama hamilpun istri saya tidak merasakan gejala yang aneh-aneh. Namun pada akhirnya, CMV tetap berkeliaran di dalam darah istri saya yang kemudian masuk ke Azka.

Informasi terakhir, test TORCH lengkap di Laboratorium Prodia seharga 1.3 juta. Biaya tersebut memang lumayan besar, namun apabila dibandingkan dengan efek yang ditimbulkan karena kecolongan, maka biaya tersebut akan jauh sangat kecil.

Akhirnya, kami mohon doa kepada anda semua, semoga kami selalu tabah dan sabar dalam menghadapi ini semua, kami yakin setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Apabila anda mempunyai pengalaman serupa, silahkan kirim email anda ke agungudik@gmail.com