Alhamdulilah, mulai minggu ini tepatnya Senin 12 Feb 2007 saya sudah mulai ngantor kembali, walau dengan kondisi masih “sedikit tidak wajar”. Dibilang tidak wajar, karena saya selalu pake sandal utk ke kantor, serta kadang celana hanya itu-itu saja 🙂 (he..he..karena, sepatu saya masih basah dan kotor kena lumpur, serta baju-baju masih dikotori dgn lumpur.Ditambah hari-hari terakhir ini, cuaca hujan sehingga menghambat proses pencucian).

Nyaris 1 minggu lebih saya ijin cuti, utk membersihkan rumah dari lumpur serta memilah dan memilih barang2x yang masih bisa dipake kembali. Dan samapi detik inipun, pekerjaan bersih-bersih tsb belum juga selesai (karena disamping membersihkan rumah sendiri, juga mesti ikutan kerja bakti dgn warga utk bersihin sampah dan lumpur yang “mampir” di jalan depan rumah kami yang mirip bukit).

Alhamdulilah, sangat banyak dukungan dari teman-teman sekalian baik berupa SMS, telephone bahkan gak tahu gimana ceritanya tiba-tiba ada penambahan di rekening saya.
Setelah kami pilah dan pilih, mungkin 70% lebih barang kami rusak, tapi ada beberapa barang elektronik yang masih bisa diservice dan berfungsi kembali.
Diantara barang yang sangat berharga dan menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarga saya selama ini adalah Laptop. Nasibnya sangat mengenaskan, dia terendam bercampur lumpur dan meninggal sampai sekarang. Padahal di sana banyak sekali hal-hal penting menyangkut pekerjaan, seperti proposal, hasil2x coding saya selama hampir 4 tahun, foto-foto history anak2x kami, dan masih banyak lagi. Tapi..sudahlah, itu semua hal kecil dibandingkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kami.
Walau saya kehilangan banyak barang, toh semua itu bisa dibilang barang sekunder. Walaupun hampir semua barang2x dagangan warung milik istri saya sudah tinggal kenangan, toh warung tsb hanyalah pekerjaan skunder kami, pekerjaan pengisi waktu istri saya.
Saya masih mempunyai pekerjaan, masih bisa berharap bulan depan dapat gaji.
Bagaimana bila dibandingkan dengan orang2x lain yang tempat usahanya hancur? dimana itu adalah satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga.
Kalopun rumah saya saat ini sanagt kotor dan berantakan, suatu saat Insya Allah akan bersih kembali.
So…..ijinkanlah saya mengucapkan alhamdulilah atas semua ini, karena kami masih bisa melaluinya dengan bahagia.

Apalagi, bencana banjir yang kami alami ini bila dibandingkan dgn Gempa di Jogja, dimana tidak ada persiapan sama sekali bagi mereka, lebih-lebih dila dibandingkan dengan Tsunami di Aceh, dimana orang tidak hanya kehilangan harta tapi juga orang2x yg mereka cintai.

Namun, bukan berarti bencana banjir yang kami alami ini boleh dianggap lucu oleh sebagian orang, kami tidak menikmatinya sebagaimana orang2x yang pinter nulis di koran dan tampil di TV berbicara.

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas support teman-teman selama ini. Dengan support yang diberikan, kami sanggup melewati semua ini dengan hati yang lapang dan sabar, Insya Allah.