Awalnya tiada, kemudian menjadi ada. Sekarang menjadi tidak ada lagi
Kamis malam itu, harusnya saya ikut rapat koordinasi penganggulanan bencana banjir dengan teman-temanku di RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Jatinegara - Jakarta Timur. Namun saat itu saya terkena flu dan cuaca hujan terus, membuat saya tidak mengikuti rapat penting tsb.
Sampai dengan jam 22.00 saya masih aktif memberi bantuan komunikasi di frekwensi radio yang menyatakan bahwa kondisi kali Ciliwung aman karena pada jam 21.00 penjaga pintu air Bendung Katulampa Bogor mengabarkan kepada saya untuk ketinggian Katulampa hanya 60 cm (di bawah normal) dan Depok di 190 cm (jauh di bawah normal). Kalaupun ada genangan, itu hanya akibat hujan lokal di Jakarta.
Berkali-kali hal tsb saya sampaikan kepada orang yang minta informasi di frekwensi maupun ke tetangga kiri kanan saya yang minta informasi langsung.
Di luar rumah, suara pompa penyedot air bergema yang menandakan dia berfungsi dengan baik utk menyedot air hasil hujan lalu mengalirkan ke kali Ciliwung.
Pukul 22.30 hujan bertambah lebatnya dan saya mulai merasakan hal yang tidak enak. Benar saya, begitu saya liat keluar air sudah mulai menggenang yang artinya pompa sudah tidak mampu lagi utk menyedot air. Segera saya bangunkan istri saya yg sedang tidur sementara kedua anak saya masih terlelap tidurnya. Selama hampir 1 jam kita memindahkan barang-barang di lantai bawah ke lantai atas.
Tepat jam 24.00 semua sudah berada di lantai atas, bersamaan air mulai masuk ke dalam rumah sebatas mata kaki. Saat itu, tiba-tiba anak saya yang pertama Fasya (3.5 thn) terbangun dan begitu melihat keluar ada banjir, dia mengigil. (saya tidak tahu, apakah dia takut atau memang karena cuaca yang sangat dingin). Akhirnya, kami sepakat untuk mengevakuasi anak-anak. Mungkin karena terlalu panik dengan keadaan Fasya, sampai-sampai istri saya lupa bahwa di dalam kamar masih ada Azka (3 bulan) anak kedua kami. Dengan dibantu oleh adik saya yang kebetulan rumahnya pas di depan, kami menyusuri jalan depan rumah yang sudah setinggi perut orang dewasa.
Awalnya, kami bertujuan ke rumah sakit karena mengkhawatirkan kondisi Fasya, tetapi begitu masuk mobil (sudah beberapa hari terakhir saya memarkir mobil di tanggul kali Ciliwung yang saat itu tidak tersentuh air) dan kami menjauh dari lokasi banjir keadaan Fasya sudah membaik, sehingga akhirnya kami memutuskan pergi ke rumah kakak saya di Rawasari - Cempaka Putih.
Benar saja, banjir saat itu disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi. Hal ini terbukti pada saat Jum’at saya menyempatkan diri melihat kondisi rumah kami, air “hanya ” menggenangi lantai satu setinggi betis. Dan air kali Ciliwung juga masih dalam batasan normal.
Tapi pada hari yang sama (Jum’at) jam 12.00 saya mendapat khabar bahwa ketinggian air di katulampa mencapai 190 cm (jauh di atas normal) dan Depok setinggi 440 Cm!!! ( jauh diatas normal). Artinya adalah, malam nanti air tsb tiba di Jakarta dengan ketinggian yang luar biasa.
Malam itu kami lewati dengan cemas, karena banjir 2002 saja ketinggian Depok tidak setinggi angka tsb. Pukul 02.00 saya mendapatkan telephon dari adik saya yang masih di sekitar lokasi bahwa air sudah mulai menggenangi Jl. Otista. Saat itu juga, dengan memakai motor saya menembus kelebatan hujan menuju Kampung Melayu. Setiba di sana, saya bertemu dengan adik saya di antara keriuhan para pengungsi, dia bercerita bahwa ketinggian air di tanggul sudah mencapai tinggi orang dewasa, artinya adalah lantai 2 rumah saya ikut tergenang setinggi lutut !!! Masya Allah, padahal semua barang-barang kami letakkan begitu saja di lantai 2.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Awalnya tidak ada, lalu Allah memudahkannya dengan membuat ada untuk kami. Sekarang Allah membuat tidak ada kembali.
Terima kasih kepada teman-teman sekalian yang telah memberikan dukungan moral, baik via SMS atapun telphone (tercatat sejak hari Rabu, hampir 100 SMS dukungan moral, saya terima dari teman-teman semua, sekali lagi terima kasih. Karena dengan itu, kami menjadi lebih tegar kembali). Alhamdulilah, walaupun semua mungkin sirna, tapi istri dan anak-anak adalah harta saya yang tidak ternilai, masih berada di sisi saya.
Hari ini, Selasa 06 Februari 2007 sebagai seorang profesional saya tetap berusaha datang ke kantor, walaupun saya memakai baju dan celana pinjaman dan sandal japit untuk bisa datang ke kantor.
Agung Ud / JZ09EZN
Eka Lisdiwanti (Fis’97)+Fasya+Azka


Post a Comment