Home > General > Grebeg Suro, sebuah kritik

Grebeg Suro, sebuah kritik

January 16th, 2007

Kebanyakan orang bila melihat Gontor ada di dalam Ponorogo, tentu akan mengatakanreog.jpg bahwa Ponorogo adalah sebuah kota Santri. Hal ini tidak terlalu berlebihan karena memang kenyataannya menurut catatan BPS terdapat 66 pondok pesantren dengan jumlah total santri laki-laki 15.941 dan santri perempuan 7.969.

Dalam buku-buku babad Ponorogo menyatakan bahwa, Batoro Katong (pendiri Ponorogo) adalah utusan Kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo, serta beliau adalah saudara kandung tapi lain ibu dari Raden Patah, Sultan Demak kala itu.

Bahkan banyak para mubaligh di Ponorogo yg “memaksakan” kata WAROK yg berarti WARA, yg istilah dalam bahasa arab artinya “orang yg menjaga dari hal-hal yg subhat”. Jadi memang tidaklah berlebihan kalau Ponorogo menjadi sebuah ikon sebuah kota yg islami.

REYOG merupakan sebuah kesenian asli dari Ponorogo yang bahkan menjadi icon pariwisata propinsi Jawa Timur. REYOG tidak bisa dilepaskan dari Ponorogo, karena apabila orang menyebut REYOG yang terlintas adalah Ponorogo dan demikian pula sebaliknya, kalau menyebut Ponorogo yg ada dalam fikiran adalah REYOG.

Konon REYOG ini merupakan salah satu media dakwah para da’i saat itu untuk memasukkan Islam ke tengah masyarakat.

Sekarang kita lihat “nafas” yang ada di Ponorogo. Sejenak, kita tinggalkan pondok pesantren yang mempunyai ribuan santri yang selalu dibanggakan oleh sebagian masyarakat Ponorogo. Kita lihat acara Grebeg Suro yang menjadi agenda tahunan bagi pemerintah daerah dan masyarakat Ponorogo.

Setiap perayaan Grebeg Suro yang memakan waktu hamper 3 minggu di awali dengan pentas tari si POTRO yang dilanjutkan dengan Simaan Al Qur’an dan Istigotsah yang dihadiri ribuan masyarakat Ponorogo.

Hari-hari berikutnya diisi dengan pameran-pameran industri, pangan atau pembangunan serta perlombaan-perlombaan mulai dari bidang agama sampai dengan festival REYOG.

Acara-acara ini umumnya masih berupa acara kesenian biasa yang merupakan produk budaya dari masyarakat. Tetapi yang patut menjadi catatan disini adalah adanya sebuah ritual khusus, yaitu apa yang disebut Kirab Pusaka dan “Larung Risalah” di Telaga Ngebel.

Kebiasaan tersebut, menurut informasi yang saya terima tidak mempunyai latar belakang sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi bila dikaitkan dengan image Ponorogo yang telah saya tuliskan di awal.

Kalau memang benar, bahwa Batoro Katong itu adalah penyebar agama Islam, dan WAROK adalah alih bahasa dari WARA yg artinya menjaga dari hal subhat, berarti kita harus bicara dalam konteks ajaran Islam yang benar.

Ajaran Islam yang bagaimana yang mengagung-agungkan pusaka/senjata, sehingga harus di arak keliling kota?

Dan lagi, ajaran islam apa yang mengajarkan bahwa sebagai bukti syukur kita kepada Tuhan itu adalah dengan cara “melarung ” tumpeng dan segala macam makanan ke dalam telaga Ngebel ? Walaupun toh katanya, disamping tumpeng yang dilarung juga ada risalah doa (rajah) yang ikut dilarung.

Bukannya rajah-rajah tersebut adalah simbol kesyirikan yang para ulama sepakat bahwa hal tersbut adalah haram dan yang melakukannya di cap sebagai musyrik?

Dari sini kita sudah mendapatkan kerancuan tentang sejarah Ponorogo. Bisa jadi teori yang menyatakan bahwa Batoro Katong adalah da’i yang ditugaskan untuk memasukkan Islam ke Ponorogo hanyalah sebuah teori yang dipaksakan.

Bagaimana mungkin seorang da’i dan seorang yang selalu menjaga hal-hal subhat, menurunkan kebiaasaan “larung tumpeng” (walaupun sekarang diganti menjadi larung risalah) yang tidak ada penjelasan sedikitpun dari sumber-sumber Islam baik Sunnah Nabi maupun Al Qur’an Karim.

Sektor pariwisata di Ponorogo memang harus ditingkatkan untuk menambah PDB Ponorogo, tetapi apalah artinya apabila harus menggadaikan aqidah yang bisa menyengsarakan anak-anak kita nanti, bahkan kita sendiri di akherat kelak?

Alangkah indahnya apabila perayaan Grebeg Suro dilakukan seiring dengan pemurnian aqidah, tanpa adanya hal-hal yang berbau syirik. Saya yakin, orang tertarik akan Grebeg Suro bukan pada  Larung Risalah-nya namun lebih tertarik akan festival REYOG-nya.

Harusnya, festival REYOG ini serta pemeran-pameran potensi yang ada di Ponorogo yang digarap secara serius oleh dinas Pariwisata setempat, bukan malah mengadakan hal-hal yang bisa merusak aqidah masyarakat.

agungudik General

Print This Post Print This Post
  1. February 19th, 2008 at 04:00 | #1

    belum telat kan untuk ngasi comment, pas kebetulan ada tugas untuk nyari data ttg ponorogo….emang bener apa yang ditulis di atas….secara walaupun sy orang ponorogo asli yang tinggal di jakarta, merasakan ketimpangan yang ” aneh”…Grebeg Suro????memperingati 1 Suro, kalau disini 1 muharram ya…tapi ya itu, jadi bergeser maknanya pas di ” Larungan”, atau mungkin ada juga hal lain yang membuat bergeser maknanya?atau ada makna yang lain, bisa ngasih tau?????

  2. February 19th, 2008 at 09:05 | #2

    @diyuchan
    Betul sekali dengan apa yang anda lihat, saya tidak tahu apakah “penyimpangan” ini memang disengaja atau memang sebuah kecelakaan.
    Pernah ada sebuah komentar masuk ke email saya, dia mengumpat saya karena tidak terima dgn tulisan saya tsb.
    kalau sudah begini, ya mo gimana lagi? memang ada sebagian masyarakat sana yang tetep ingin berada di jaman jahiliyah :D

  3. WINARNO
    April 3rd, 2008 at 16:10 | #3

    Ponorogo memang tidak lepas dari Santri, Reyog dan Batoro katong. namun mungkin perlu diingat proses Islamisasi batoro katong terhadap masyarakat asli ponorogo mungkin belum tuntas 100 %, hal ini bisa dilihat dengan adanya budaya Gemblak yang mengiri Budaya Reyog. Konon sebelum Batoro Katong menginjakan kakinya di Ponorogo, di tempat tersebut telah ada penguasanya yang masih menaganut kepercayaan lama. Dan kemungkinan kepercayaan lama tersebut yang masih eksis diluar budaya santri. Dengan mengembalikan Ponorogo sebagai Kota yang didirikan dalam rangka Islamisasi tentu kepercayaan-kepercayaan yang menjurus syirik perlu dihilangkan untuk menghormati Batoro Katong senbagi Pendiri Ponorogo Baru. Dan saya warga yang masih ada hubungan kedaerahan dengan Ponorogo juga tidak rela ada unsur syirik dalam Acara Grebeg Suro.

  4. April 3rd, 2008 at 16:35 | #4

    @Pak Winarno …
    Terima kasih sekali atas pendapat yang telah diberikan.
    Saya setuju sekali dengan anda, bahwasannya kita, orang Ponorogo tidak rela apabila semangat islam Ponorogo, di ciderai oleh oknum-oknum yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat dengan cara menjual “nilai asli” Ponorogo dengan budaya yang gak jelas jluntrung dan asalnya darimana, dan yang jelas bukan dari Ponorogo.

  5. risse
    November 29th, 2008 at 21:48 | #5

    Memang benar apa yang anda katakan,dalam Al-Qur’an memang tidak di jelaskan tentang ajaran2 di atas…Tetapi apakah di jaman Bathara Khatong sudah ada acara larung tumpeng…?

  6. December 11th, 2008 at 18:47 | #6

    tugas kita untuk meluruskan?

  7. sunrise
    December 25th, 2008 at 09:50 | #7

    inilah cerminan para pemimpin kita yang lbh dekat kpd syirik dan senang berfoya2…iya tidak…..
    berapa besar dana yang dianggarkan untuk acara ini, apakah input yg didapat sudah seimbang atau cm demi gengsi sang pemimpin saja??????????????

  8. sate
    December 26th, 2008 at 15:15 | #8

    100% setujuuuuuuuu……… , tapi gimana caranya? ada ide nggak?

  9. January 4th, 2009 at 23:05 | #9

    Saya kebetulan lahir dan mengenyam sekolah hingga sma di ponorogo selanjutnya mburu ilmu di Institut Seni Yogyakarta.
    Ketika tahun delapanpuluhtujuhan beberapa pemain politik memanfatkan anak-anak sma untuk mendukung salah satu partai, saat itu saya ya awalnya ikut ubyak-ubyug…
    berkembang selanjutnya tumbuh pagelaran yang dilakukan teman-teman sma yang dibarengkan dengan suro yang sbelumnya memang telah ada bahwa masyarakat ponorogo memiliki tradisi suronan
    seluruh masyarakat dari plosok desa turun ke kota.
    teman-teman sma dua tahun 87, 88, 89 tentu paham dengan maksud saya.
    mungkin untuk biar seperti tontonan di yogya dan solo dikembangkan larung dan pernak-pernik tontonan yang dibumbui ini itu…
    saya sangat salut dan hormat kepada njenengan yang mengoreksi acara grebeg suro di ponorogo agar saya dan seluruh masyarakat ponorogo memiliki pakem jelas tentang hakekat dan makna sebuah kegiatan yang dilakukan.
    sebenarnya obrolan saya dengan alm pak sigit ampi waktu itu berobsesi suatu ketika pekerja seni itu menjadi bagian terhormat di ponorogo… minimal secara ekonomi terlindungi.. dipermudah menjadi pns atau putra-putrinya terasuransi pendidikannya.
    belum terlambat untuk berbenah demi kota tercinta.
    .. salam untuk pak topik thamrin, nade yang aleman dan oni purbosuman, darmaji gundik slahung (dimana kawan you hidup)..

    Pak wahyu….terima kasih atas komentar anda dalam tulisan saya yang kontroversial tersebut.
    Saya terus terang kaget dengan tanggapan anda yang seorang warga asli dan bermuqim di Ponorogo sekarang. Karena tanggapan njenengan adalah suatu bentuk kesadaran logika dan njenengan juga berkenan menceritakan “kronologi” dari larungan yang memang benar, tidak ada sumber sejarahnya. (saya sudah pernah wawancara dengan beberapa pinisepuh di Ponorogo, yang memang acara larungan tersebut hanya ada pada tahun-tahun sekarang ini. Dulu-nya tidak pernah ada).
    Kenapa saya kaget membaca tanggapan anda?
    Karena, saya pernah posting tulisan saya ini di sebuah blog milik orang2x Ponorogo, tetapi bukan sanggahan yang bernilai ilmiah, tetapi malah caci maki dan kemarahan yang ada.
    Sebetulnya sih, hak mereka untuk tidak setuju, tetapi mestinya pendapatnya disampaikan dengan bukti ilmiah dan cara berfikir yang rasional, bukan “horogodok” :-) Ok pak Wahyu, selamat berkarya semoga sukses. Nyuwun titip Ponorogo :-) Karena Ponorogo akan semakin makmur bila di “pegang” oleh orang2x yang berfikiran rasional seperti njenengan, bukan oleh orang-orang yang mengedepankan “otot”-nya. :-)

  1. December 19th, 2008 at 15:49 | #1